Hidup Seimbang

Taman & Kupu-Kupu

Maru adalah seorang anak muda yang begitu gemilang karirnya. Namun ia merasa hidupnya masih saja tidak bahagia terutama ketika berpikir tentang keluarganya. Istrinya dianggapnya terlalu sering mengomel karena merasa Maru jarang memberikan waktu dan perhatiannya pada keluarga. Orang tua serta saudara-saudaranya pun juga menganggapnya sombong dan tidak lagi peduli pada mereka. Tuntutan pekerjaan membuatnya tidak punya waktu untuk keluarga, teman-teman lama, bahkan untuk merenung bagi dirinya sendiri.

Hingga suatu hari hidupnya berubah karena kejadian di bawah ini.

Waktu itu Maru sedang menghadapi masalah pelik di perusahaan sehingga ia harus mendatangi rumah salah seorang petinggi perusahaan.
Tiba di rumah petinggi perusahaan itu, Maru sangat terpukau saat melewati taman yang tertata rapi dan begitu indah.

“Hai Maru. Tunggulah di dalam. Masih ada beberapa hal yang harus saya selesaikan,” seru tuan rumah.

Bukannya masuk, Maru malahan menghampiri dan bertanya, “Maaf, Pak. Hebat sekali Bapak ini. Bagaimana caranya bapak bisa merawat taman yang begitu indah sambil tetap bekerja dan bisa membuat keputusan-keputusan hebat di perusahaan kita?”

Tanpa mengalihkan perhatian dari pekerjaan yang sedang dikerjakan, si bapak menjawab ramah, “Maru, mau lihat keindahan yang lain? Kamu coba boleh kelilingi rumah ini. Tetapi, sambil keliling, bawa mangkok susu ini. Jangan tumpah ya. Setelah itu kembalilah kemari”.

Dengan sedikit heran, namun senang hati, diikutinya perintah itu. Tak lama kemudian, dia kembali dengan lega karena mangkok susu tersebut tidak tumpah sedikit pun.

Si bapak bertanya, “Maru. Kamu sudah lihat koleksi batu-batuanku? Atau bertemu dengan burung kesayanganku?”

Sambil tersipu malu, Maru menjawab, “Maaf Pak, saya tidak bisa lihat apa pun karena fokus saya dari tadi hanya pada mangkok susu ini supaya tidak tumpah. Baiklah, saya akan pergi melihatnya.”

Saat kembali lagi dari mengelilingi rumah, dengan nada gembira dan kagum ia berkata, “Rumah Bapak sungguh indah sekali, asri, dan nyaman.” tanpa diminta, dia menceritakan apa saja yg dilihatnya.

Si Bapak mendengar sambil tersenyum puas sambil mata tuanya melirik susu di dalam mangkok yang hampir habis.

Menyadari lirikan si bapak ke arah mangkoknya, Maru berkata, “Maaf Pak, keasyikan menikmati indahnya rumah Bapak, susunya tumpah semua”.

“Hahaha! Maru. Apa yang kita pelajari hari ini? Jika susu di mangkok itu utuh, maka rumahku yang indah tidak akan tampak olehmu. Jika rumahku terlihat indah di matamu, maka susunya tumpah semua. Sama seperti itulah kehidupan, harus seimbang. Seimbang menjaga agar susu tidak tumpah sekaligus rumah ini juga indah di matamu. Seimbang membagi waktu untuk pekerjaan dan keluarga. Semua kembali ke kita, bagaimana membagi dan memanfaatkannya. Jika kita mampu menyeimbangkan dengan bijak, maka pasti kehidupan kita akan lebih harmonis dan indah”.

Dunia kita tidak stabil, ekonomi sulit, penyakit datang silih berganti, kadang kita dilanda pandemi, kadang kita dilanda resesi ekonomi.
Semua itu butuh perhatian kita. Jika kita hanya perhatikan keluarga kita saja, tentu saja pekerjaan kita, ekonomi kita bisa jadi masalah.
Lalu memperhatikan hanya pekerjaan dan ekonomi serta melupakan keluarga kita, itu juga akan menimbulkan masalah.

Kesehatan kita saat ini juga dituntut tinggi. Kurang tidur, hidup serampangan, mengabaikan keselamatan diri juga akan bisa membahayakan bukan saja untuk diri kita tapi juga untuk keluarga kita. Perlu Olah raga, makan makanan bernutrisi yang sehat. Oleh karena itu mari kita seimbangkan semuanya.

“Life is like riding a bicycle. To keep your balance, you must keep moving.”
(Albert Einstein)

By Galatia Chandra

Join the ConversationLeave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comment*

Name*

Website

two × five =