Antara Pasrah dan Putus Asa

Antara Pasrah dan Putus Asa

Antara Pasrah dan Putus Asa
Oleh: Adi W. Gunawan

“Pak Adi, saya ini sudah pasrah, tapi kenapa ya hati saya masih terus gundah, susah. Apa yang salah dengan diri saya? Katanya kalau orang pasrah, hidupnya bisa tenang,” tanya seorang klien.

“Bisa Ibu jelaskan lebih detil kondisi yang Ibu alami dan apa yang telah Ibu lakukan untuk pasrah?” tanya saya.

Klien ini, sebut saja sebagai Bu Tanti, 47 tahun, merasa dalam posisi terjepit. Sudah setahun ini ia tinggal serumah dengan mertua perempuan. Sejak mertua lakinya meninggal, ibu mertua ini ikut Bu Tanti karena suami Bu Tanti adalah anak tunggal.

Luar biasanya, si Ibu mertua, menurut Bu Tanti, sangat cerewet, sangat pengatur, mendominasi rumah tangganya. Bu Tanti bingung dan galau. Kebahagiaannya terusik dengan hadirnya si mertua. Tapi, ia tidak mungkin menempatkan mertua di panti jompo. Suaminya pasti tidak setuju. Bila ibu mertua diminta tinggal di rumahnya sendiri, suami Bu Tanti tidak tega.

Saya tanya Bu Tanti, “Ibu yakin sudah benar-benar pasrah?”

“Saya sudah pasrah, Pak Adi. Terserah Ibu mertua saya mau apa di rumah saya, saya tidak ambil pusing, tidak mau tahu, dan tidak mau ngurusi,” jawabnya agak ketus.

Saya tertawa geli dan tergelak saat mendengar jawaban Bu Tanti. Dari caranya menjawab saya tahu sebenarnya ia tidak pasrah. Bahkan, mencoba pasrah saja belum ia lakukan. Yang terjadi sebenarnya adalah ia PUTUS ASA, bukan PASRAH.

“Ibu tidak pasrah. Tapi Ibu putus asa,” jawab saya.

“Ah.. saya sudah pasrah total nih, Pak,” jawabnya lagi.

Saya sampaikan padanya bahwa yang sering orang katakan sebagai “pasrah” sebenarnya adalah “putus asa”. Mereka tidak bisa atau tidak mengerti bedanya atau cara membedakannya.

Saat kita telah benar-benar pasrah, kita tidak lagi terikat, melekat, atau dipengaruhi oleh hal di luar diri. Saat benar-benar pasrah, hati dipenuhi perasaan tenang, damai, bahagia. Masalah bisa tetap ada, namun ia tidak lagi berpengaruh pada diri kita.

Namun, saat seseorang telah berusaha mengatasi kondisi yang membuatnya tidak nyaman dan tidak berhasil, akhirnya ia frustrasi, dan putus asa. Setelahnya, ia berusaha untuk tidak lagi mau memikirkan masalah ini. Ini yang sering mereka sebut sebagai pasrah.

Cara membedakan antara pasrah dan putus asa ada pada kualitas pikiran dan emosi yang dialami seseorang. Saat benar pasrah, kita merasa tenang, damai, bahagia. Saat putus asa, perasaan yang dirasakan adalah andilau, antara dilema dan galau, tidak nyaman, sangat terganggu.

Kita bisa bersikeras sudah pasrah namun perasaan, pikiran, dan kondisi tubuh tidak bisa bohong. Orang yang putus asa tapi bersikeras mengatakan dirinya pasrah pasti merasa tidak nyaman dan menderita dengan “kepasrahannya” ini.

Demikianlah adanya…
Demikianlah kenyataannya….

Join the ConversationLeave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comment*

Name*

Website

1 × 3 =